Ganjar Benar, Kekuatan Minimum TNI Jauh di Bawah Target

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Kekuatan pokok minimum TNI atau Minimum Essential Force (MEF) tampaknya masih cukup sulit mencapai 100% pada tahun ini. Hal tersebut lantaran, capaian MEF sejak 2019 selalu tak menyentuh target.

Ganjar Pranowo, Calon Presiden (Capres) nomor urut tiga juga ikut mengungkapkan target MEF 2024 tidak tercapai. Hal tersebut disampaikan Beliau pada pada Debat Capres ketiga di Istora Senayan GBK, Jakarta, Minggu (7/1/2024).

“Minimum Essential Force di 2024 tidak tercapai karena sekarang hanya 65,49% dari target program,” ungkap Ganjar dalam debat.

Sebelum berbicara lebih jauh, sebenarnya apa itu Minimum Essential Force?

Definisi Minimum Essential Force (MEF)

Minimum Essential Force (MEF) merupakan kekuatan pokok minimum yang harus dimiliki TNI untuk mempertahankan kedaulatan RI, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa.

MEF sendiri merupakan konsep yang telah diterapkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. MEF dirumuskan berdasarkan analisis terhadap ancaman yang dihadapi oleh suatu negara, bisa berupa ancaman militer, non militer, maupun kombinasi dari keduanya.

Menurut Laporan Capaian Kinerja Deputi Bidang Koordinasi Pertahanan Negara (2022), sasaran utama program MEF adalah, “Membangun komponen utama TNI hingga mencapai kekuatan pokok minimum sebagai postur pertahanan yang ideal dan disegani di level regional maupun internasional”.

Berdasarkan laporan tersebut, pencapaian MEF dapat dinilai menggunakan empat variabel, yaitu:

  • Alat utama sistem persenjataan (alutsista);
  • Pemeliharaan dan perawatan alutsista;
  • Sarana dan prasarana pertahanan; serta
  • Profesionalisme dan kesejahteraan prajurit.

Namun, selama ini capaian MEF baru dihitung menggunakan variabel alutsista, sementara tiga variabel yang lain belum dinilai optimal karena formula penghitungannya lebih rumit.

Fakta MEF Indonesia Ternyata Gagal Capai Target

Realitanya, melansir data Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) MEF Indonesia sejak 2015 hingga 2021 cenderung mengalami kenaikan. Akan tetapi mulai 2019 – 2021, capaian MEF malah selalu turun.

Dengan terjadinya penyusutan capaian MEF, maka target yang telah ditetapkan berdasarkan Rencana Strategis Kedeputian Bidang Koordinasi Pertahanan Negara 2020 – 2024 semakin sulit dicapai.

Padahal, pada tahun MEF ditargetkan mencapai 100%, akan tetapi faktanya tidak demikian lantaran pada 2021 saja MEF masih berada di 62,31%, jauh dari target sebesar 79%. Fakta tersebut terbilang cukup sesuai dengan yang diungkapkan Ganjar pada debat semalam.

Pihak Prabowo menjelaskan salah satu kegagalan pemerintah memenuhi MEF adalah karena hantaman Covid-19. Pandemi membuat anggaran Kementerian Pertahanan dipangkas untuk kepentingan pembelian vaksin.

Anggaran Pertahanan Melonjak, Tapi Belum Ideal

Namun, realita-nya walau ada Covid-19 tetapi anggaran pertahanan sejak Prabowo menjabat sebagai menteri pertahanan (menhan) malah melonjak, bahkan yang tertinggi pada 2022 sempat mencapai Rp150,44 triliun.

Sayangnya, peningkatan jumlah anggaran di masa kepemimpinan Prabowo jika dibandingkan dengan berbagai negara maju belum mencapai nilai yang ideal untuk mendorong MEF mencapai target 100%.

Masalah anggaran menjadi penentu karena mencakup modernisasi, perawatan, biaya operasi alutsista, hingga operatornya. Dibandingkan dengan negara maju, anggaran militer biasanya berkisar 1% sampai 3% dari pendapatan produk domestik bruto (PDB), sedangkan Indonesia malah tak sampai 0,8%.

Hal tersebut juga disoroti oleh Ganjar Pranowo dalam debat semalam. Dia menyebutkan untuk mendorong MEF diperlukan peningkatan jumlah anggaran pertahanan, karena saat ini nilainya belum ideal, paling tidak mencapai 1% sampai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Anggaran pertahanan belum ideal, kita perlu 1% – 2% dari PDB, sekarang masih 0,78% dari PDB” Ungkap Ganjar pada Debat Capres, Minggu (7/1/2024).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), rasio anggaran pertahanan Indonesia terhadap PDB pada tahun 2022 memang sekitar 0,77%. Sebagai catatan, rasio tersebut dihasilkan dari anggaran pertahanan senilai Rp150,44 triliun dibandingkan dengan nilai PDB pada 2022 sebesar Rp19.588,45 triliun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sebagai catatan juga, secara tren memang anggaran pertahanan pada 2022 menjadi yang paling tinggi sejak Prabowo menjabat sebagai menteri pertahanan (menhan) dari 2020. Namun, dalam lima tahun terakhir rasio anggaran terhadap PDB belum pernah menyentuh 1%. https://kolechai.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*